
Biografi
Fatimah binti Muhammad atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra putri bungsu Nabi Muhammad dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah.Lahir di Mekkah, Arab Saudi pada hari Jum’at 20 Jumadil akhir, tahun 614 M (menurut Syi’ah) atau tahun 606 M (menurut sunni) yaitu tahun ke 5 kerasulan nabi Muhammad Saw di Mekkah. Pada masa awal kenabian ini, Muhammad sering mendapat perlakukan tak patut dari kaum Quraisy. Salah satunya, ketika nabi Muhammad bersujud, datang beberapa orang Quraisy dan menumpahkan kotoran unta di punggungnya sambil tertawa-tawa. Melihat hal tersebut, Fatimah yang saat itu masih seorang gadis kecil segera berlari menuju ke tempat ayahnya.
Tanpa gentar sedikit pun, Fatimah menghampiri orang-orang Quraisy tersebut dan menghardik mereka. Para lelaki itu pun bergegas pergi lantaran malu. Fatimah membersihkan punggung ayahnya dari kotoran unta sembari menangis.
Rasulullah pun berkata, “Jangan menangis, wahai anakku. Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu.”
Sayidah Fatimah Az-Zahra menikah dengan Ali pada tahun ke-2 H/623M dan resepsi pernikahannya diselenggarakan setelah Perang Badar pada bulan Syawal atau Dzulhijjah tahun ke-2 H/623. Demi menikahi Fatimah, Ali menjual perisainya untuk biaya pernikahan.
Sebelumnya dua sahabat Nabi, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, sebelumnya pernah meminang Fatimah. Namun, Muhammad tidak mengizinkan karena menunggu izin Allah terkait jodoh putrinya, dan itu ternyata Ali.
Mereka di karuniai lima orang anak, tiga di antaranya laki-laki yang bernama Husain bin Ali, Hasan bin Ali, Muhsin bin Ali, dan dua orang perempuan yang bernama Zainab binti Ali, Ummi Kultsum binti Ali.
Enam bulan setelah Rasulullah meninggal, Fatimah disebutkan jatuh sakit, boleh jadi karena kesedihan dan berbagai kejadian yang menimpanya sepeninggal sang ayah.Dalam satu riwayat dikisahkan, pagi tanggal 3 Ramadan tahun 11 Hijriah, Fatimah mandi dan mengenakan pakaian baru, kemudian berbaring di tempat tidur. Kepada Ali, Fatimah berkata bahwa saat-saat kematiannya sudah dekat.
Ali pun menangis, namun Fatimah menghibur suaminya agar jangan bersedih dan supaya menjaga anak-anak mereka. Fatimah juga berpesan, setelah meninggal nanti, ia tidak ingin dikuburkan dengan upacara pemakaman.
Lantaran waktu salat tiba, Ali berangkat ke masjid. Saat Ali tidak ada itulah Fatimah mengembuskan nafas terakhir. Kedua putra mereka, Hassan dan Husein, bergegas menyusul Ali ke masjid untuk mengabarkan berita duka itu. Mendengar istrinya tiada, Ali tak sadarkan diri. Setelah siuman, Ali menuruti pesan terakhir istrinya. Fatimah dikuburkan secara diam-diam tanpa upacara. Tidak ada warga Madinah yang tahu selain Ali dan keluarga terdekat. Ali juga membuat tiga kuburan palsu supaya makam istrinya tidak dapat diidentifikasi.
Keistimewaan
Keutamaan Nabi Muhammad SAW diwarisi pula oleh Fatimah az-Zahra, putri bungsu Rasulullah bersama Khadijah. Fatimah dikenal sebagai wanita mulia yang sabar, taat kepada Allah, dan me miliki sifat qana’ah. Menjadi putri Rasulullah tak menghalanginya untuk ikut berjuang di jalan Allah. Ia termasuk seorang mujahidah yang turun ke me dan perang, termasuk Perang Uhud. Ia membantu kaum Muslimin dengan menyediakan air minum dan mempersiapkan urusan logistik, serta memberikan pengobatan bagi mereka yang terluka.
Sebuah hadis riwayat Tirmidzi menceritakan saat menemukan Rasulullah terluka dalam sebuah peperangan, Fatimah memeluknya dan membersihkan luka-lukanya. Ketika ia melihat semakin banyak darah yang keluar dari luka sang ayah, ia membakar potongan tikar dan membubuhkannya pada luka Rasulullah hingga melekat dan menghentikan darah itu.
Selain itu, Fatimah juga dikenal sebagai sosok perempuan yang terjun ke dunia politik saat mencalonkan suaminya, Ali bin Abi Tha lib, sebagai khalifah pertama penerus kepemimpinan ayahnya.
Panggilan khas
Ummul Hasan
Ummul Husain
Ummul Muhsin
Ummul Aimmah
Ummu Abiha
Kontribusi untuk umat islam
Fatimah Az-Zahra ikut serta dalam peperangan. Fatimah Az-Zahra menjadi pengawas dan
merawat pasukan Islam yang terluka. Ketika Rasulullah terluka parah dalam perang
Uhud, Fatimah Az-Zahra mengambil jerami padi, membakarnya dan kemudian
abunya ditempelkan pada luka tersebut sehingga pendarahannya berhenti. Bukan
Fatimah Az-zahra saja yang merawat pasukan Islam yang terluka dalam peperangan ini, ada tim khusus yang telah disusun untuk merawat pasukan Islam yang terluka pada saat peperangan.
Dalam kesempatan-kesempatan kritis lainnya, Fatimah Az-Zahra tidak merasa
bahwa sebaiknya ia tinggal di rumah, ia lebih terpanggil untuk berperang serta dalam social. Beliau suka berdiskusi dengan orang-orang mengenai masalah politik dan
agama.
Fatimah memiliki sepak terjang yang harum di medan jihad. Sejarah telah
mencatat keutamaan-keutamaannya di berbagai pertempuran bersama Rasulullah
Saw. Perjuangan Fatimah Az-Zahra dalam membela Islam antara lain menjadi
motivator Rasulullah Saw., saat Nabi mendapat tekanan dari kaum Quraisy Makkah.
Membantu menyediakan makanan untuk pasukan Islam yang sedang menggali parit
dalam rangka mempersiapkan diri untuk Perang Khandaq. Dalam perang Khandaq.
dan perang Khaibar, bersama 14 perempuan lainnya, diantaranya Ummu Sulaym binti Milhan dan Ummul Mukmin Aisyah, untuk membawa air dalam qirbah dan
membawa perbekalan di punggungnya untuk memberi makan dan minum orang-
orang mukmin yang sedang berperang.
Setelah meninggalnya Rasulullah saw. banyak kesulitan menghadang Islam
dan orang-orang muslim. Dalam hal ini, Fatimah Az-zahra merasa bertanggung jawab
dalam mengurus aktifitas-aktifitas social dan poltik. Selain itu beliau membantu
suaminya dalam hal-hal yang berhubungan dengan jihad, mendirikan pertemuan
pendidikan dan pengajaran.